Sabtu, 24 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
busanculzangs.combusanculzangs.com
busanculzangs.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › 5 Kebiasaan Orang Tua Saya yang Masih Masuk Akal S...

5 Kebiasaan Orang Tua Saya yang Masih Masuk Akal Sampai Sekarang

Cerita soal kebiasaan hemat listrik dan rawat barang warisan orang tua yang ternyata relevan buat rumah tangga di kampung.

5 Kebiasaan Orang Tua Saya yang Masih Masuk Akal Sampai Sekarang

Gue tumbuh di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, rumahnya dekat sawah, dan listrik di kampung kami dulu sering byar-pet. Mati nyala. Bapak gue tukang servis elektronik keliling, ibu gue penjahit. Dua-duanya orang yang nggak pernah beli barang baru kalau yang lama masih bisa dipakai. Dulu gue sempat malu sama kebiasaan mereka. Sekarang, setelah punya rumah sendiri dan lihat tagihan listrik naik terus, gue sadar kebiasaan mereka itu bukan pelit — itu masuk akal.

Ini bukan artikel tips hasil googling. Ini catatan dari rumah kecil yang gue tinggali bareng istri, dua anak, dan satu kulkas tua yang masih setia sejak 2011. Beberapa kebiasaan di bawah ini gue adopsi mentah-mentah dari orang tua. Beberapa gue modifikasi karena zaman berubah. Tapi intinya satu: hemat itu bukan soal pelit, tapi soal tahu ke mana barang dan listrik pergi.

Cabut colokan itu bukan mitos, tapi juga bukan segalanya

Ibu gue dulu selalu cabut colokan TV dan setrika habis dipakai. Gue remaja sempat ngejek, "Ibu, ini cuma 5 watt kali." Bertahun kemudian, waktu gue hitung sendiri pakai alat pengukur daya murah yang gue beli di toko elektronik pasar, ternyata total standby power di rumah gue bisa 15–20 watt. Kalikan 24 jam, kalikan 30 hari. Lumayan, cukup buat bayar iuran sampah sebulan.

Baca Juga: Gamer ID Peta

Baca juga: Rahasia Tagihan Listrik Turun Drastis dengan Cara Merawat Perabot Rumah yang Benar

Tapi gue nggak mau lebay. Nggak semua colokan perlu dicabut tiap hari. Yang gue lakukan sekarang: cabut yang memang jarang dipakai, biarkan yang sering. Charger HP yang udah penuh, cabut. Adaptor laptop yang lagi nggak dipakai, cabut. TV dan setrika, cabut. Rice cooker, biarkan karena dipakai tiap hari. Simpel, nggak bikin repot, dan hasilnya kerasa di tagihan.

Bapak gue pernah bilang: "Listrik itu kayak air di bak. Kalau keran bocor sedikit-sedikit, lama-lama baknya kosong juga." Kalimat itu nggak pernah gue lupakan.

Servis kecil sebelum ganti besar

Ini pelajaran paling mahal yang gue dapat. Dulu, begitu kipas angin berisik, gue langsung beli baru. Begitu mesin cuci agak goyang, gue mikirnya "udah waktunya ganti". Padahal bapak gue, dengan obeng dan kuas kecil, bisa bikin kipas itu senyap lagi dalam 20 menit. Masalahnya cuma debu di baling-baling dan bantalan yang kering.

Sekarang gue rutin melakukan tiga hal sederhana tiap tiga bulan:

  • Bersihin filter belakang kulkas dan kipas ventilasinya pakai kuas atau vacuum kecil. Kulkas yang filternya kotor kerja lebih keras, dan itu langsung kelihatan di meteran.
  • Buka casing kipas angin dan bersihin debu di baling-baling. Suara jadi lebih halus, putaran lebih ringan, listrik lebih irit.
  • Cek karet pintu kulkas. Kalau udah nggak nempel rapat, udara dingin bocor, kompresor kerja nonstop. Karet baru harganya nggak sampai lima puluh ribu, jauh lebih murah dari kulkas baru.

Gue bukan teknisi. Gue cuma orang yang pernah lihat bapak gue bongkar mesin cuci sambil ngopi. Tapi ternyata, 80 persen kerusakan alat rumah tangga itu berasal dari hal sepele: debu, kotoran, dan karet yang mengeras. Bukan dari komponen mahal yang rusak.

Soal lampu dan AC, gue akui pernah salah

Dulu gue pikir ganti semua lampu ke LED itu ribet dan mahal. Ternyata setelah gue hitung, lampu 18 watt yang diganti LED 9 watt, kalau ada 10 titik lampu yang nyala 6 jam sehari, penghematannya bisa 15–20 kWh sebulan. Buat rumah di kota kecil dengan tarif listrik subsidi sebagian, itu artinya puluhan ribu rupiah yang bisa dialihkan buat beli beras atau susu anak.

AC? Gue nggak punya AC. Rumah gue di kampung masih pakai ventilasi silang dan pohon rambutan di halaman. Tapi buat kamu yang punya AC, satu hal yang gue pelajari dari tetangga: bersihin filter AC tiap bulan, dan atur suhu 25 derajat, bukan 18. Selisih 7 derajat itu bisa bikin tagihan naik hampir dua kali lipat, dan AC-nya lebih cepat rusak.

Barang awet itu bukan soal mahal atau murah, tapi soal cara pakai

Ibu gue punya setrika yang umurnya lebih tua dari gue. Bukan karena setrika itu mahal — harganya biasa aja waktu beli. Tapi karena dipakai dengan cara yang benar: nggak pernah ditinggal nyala, selalu dibersihin bagian bawahnya, dan kabelnya digulung rapi, bukan dilipat sembarangan. Kabel yang dilipat terus di titik yang sama akan patah di dalam, dan itu penyebab nomor satu setrika mati mendadak.

Gue juga belajar soal menyimpan barang. Di rumah orang tua gue, semua alat elektronik yang nggak dipakai disimpan di dalam kardus, di rak yang nggak kena sinar matahari langsung. Katanya biar nggak berdebu dan nggak lembap. Ternyata itu beneran berpengaruh. Barang yang disimpan dengan benar bisa bertahan bertahun-tahun lebih lama daripada yang dibiarkan nganggur di sudut ruangan, kena panas dan debu.

Yang paling penting, dan ini yang sering gue lupa: jangan beli barang karena lagi diskon. Beli karena butuh. Orang tua gue nggak pernah beli barang baru kecuali yang lama benar-benar nggak bisa diselamatkan. Dan anehnya, rumah mereka justru terasa lebih lengkap dan terawat dibanding rumah gue yang dulu penuh barang murah hasil belanja online tengah malam.

Yang gue pelajari setelah bertahun-tahun

Hemat energi dan rawat barang itu bukan proyek besar. Nggak perlu beli alat mahal, nggak perlu ikut tren minimalis yang kadang bikin kita malah beli banyak wadah plastik baru. Yang perlu cuma perhatian kecil yang dilakukan konsisten. Cabut colokan, bersihin filter, cek karet pintu, matikan lampu yang nggak dipakai. Itu semua nggak butuh biaya, cuma butuh kebiasaan.

Gue nggak bilang hidup harus pelit. Kadang kita memang perlu beli barang baru, kadang kita perlu nyalakan AC lebih dingin karena anak lagi demam. Tapi kalau kebiasaan kecil ini udah jadi bagian dari rumah tangga, pengeluaran besar yang nggak perlu jadi lebih jarang muncul. Dan buat keluarga di kota kecil atau desa seperti gue, selisih seratus dua ratus ribu per bulan itu bukan angka kecil.

Kalau kamu pernah ngejek kebiasaan orang tua yang suka cabut colokan atau ogah ganti barang yang masih bisa dipakai, coba deh hitung ulang. Mungkin mereka nggak ketinggalan zaman. Mungkin justru mereka yang udah tahu duluan.

Tags: hemat energi rumah tangga perawatan barang hidup di desa pengalaman pribadi